Inilah cinta
Kala ruh, darah, dan jasad ini
Adalah bukti cinta para pecinta sejati
Layaknya jantung yang terkoyak milik Hamzah bin abdul mutthalib
Tubuh yang tercabik berpuluh pedang milik anas bin abi nadr di perang uhud
Hingga tiada terkenali kecuali dari jarinya yang tersisa
Inilah cinta
Kala maal, jiwa dan raga
Adalah saksi cinta tak terbantahkan
Cinta Abu Bakar yang tak ragu menginfakkan segala hartanya bagi Islam dan
Mentsiqohkan keluarganya pada Rabb dan RasulNya
Inilah cinta
Kala tetesan peluh, tetesan darah, degupan jantung
Menoreh sejarah sepanjang masa
Cinta seorang Hasan al banna yang menggelora akan kebangkitan Islam
Tetesan darah yang menjadi saksi jihad, dan sisa detak jantung yang terus
menabuhkan genderang jihad hingga detik ini
kala tak satupun orang yang boleh menolongnya, dan asy syahid Hasan al banna
syahid kala tetes darahnya berakhir
Inilah cinta...
Cinta yang membuat khalid bin walid lebih menyukai malam-malam dingin di
medan jihad
Dibandingkan malam-malam hangat bersama istri tercintanya
Inilah cinta..
Yang terlukis dari senyuman indah Sayid Qutb kala kerinduannya bertemu
Rabbnya terkabul dari tiang gantungan
Inilah cinta
Kala Nusaibah dan Al Khansa
Rela menginfakkan keluarganya dan berdarah-darah demi menjaga Rasulullah
Ikhwati fillah inilah cinta..
Cinta yang membuat manusia biasa menjadi manusia-manusia langit
Cinta yang membuat kekasih kita Rasulullah saw
Di akhir hidupnya terus berkata umati.umati. umati
Inilah cinta yang terang
Cinta yang berbuah jannati
Cinta para pecinta sejati
( azsya )
Yang merindu satu cinta yang terang...
Kini hingga akhir masa..
Islam takkan pernah bangkit bila ummatnya tak yakin dan tak dapat membuktikan Islam sebagai satu-satunya agama yg benar.
Tidak ada Islam melainkan dengan jamaah, tak ada jamaah melainkan dengan imamah (kepemimpinan), dan tak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan." ( Umar Bin Khattab r.a. )
Yakinkan diri dan mari kita bersatu dalam 1 Khalifah..
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
Sunday, August 15, 2010
[Sebuah Surat untuk Malaikat Maut] Ketika Kepak Sayap-mu Hujani Mata Kami
Semesta bertasbih ..
Di ratapnya orang yang bersedih
Tapi kau tak peduli
Terhadap siapa yang kau bawa pergi..
Bagai awan mendung yang menggantung
Kau tebarkan murung yang menggunung
Laksana petir yang menyambar
Kau semburkan getir yang melahar
Ooooohhhhhhhhh....
Sungguh tak ada yang dapat berlari
Tak satupun sanggup memungkiri
Bahwa setiap yang bernafas; pasti akan M-A-T-I...
Aduhai.. Betapa luasnya kuasamu ini..
Kau pisahkan sang ayah dari anak dan istri..
Kau renggut sang terkasih dari yang mengasihi...
Kau putuskan lezatnya meniti hari...
Bagai daun kering yang berguguran
Kau pekatkan aura kematian
S'perti buah kelapa yang berjatuhan
Tua-muda, semua kau beri perpisahan
"Tapi jangan khawatir", itu katamu...
"Perpisahan ini bukanlah elegi
Namun, sebuah gerbang pembuka hati
Dalam perjalanan suci menuju Ilahi"
"Namun, bagi mereka yang lalai", lanjutmu...
"Akan menunggu adzab yang pasti
dimana hari-hari bukanlah mimpi yang tak bertepi
melainkan gelap malam yang t'rus merajam diri"
Dan akupun bertanya, wahai Izrail
dalam rupa apa kau kan datang memanggil?
dalam keadaan bagaimana nyawaku kau cungkil?
dan dengan sayap yang mana, rohku ini kau ambil?
Hingga nanti.., wahai makhluk yang ditakuti
Kau akan berdiri di hadapanku sendiri
Mencuri cahaya mata dari tubuh tak-abadi
Terbangkan jiwaku melintasi mentari...
Dan kini.., wahai algojo yang tak bermurah hati
Tidakkah kau lihat, karyamu selalu hantui kami
Di saat catatan pahala-dosa t'lah terhenti
Dan, Ketika kepak sayapmu hujani mata kami...
(Oh, adakah aku tergolong "beruntung" atau "merugi"?)
Di ratapnya orang yang bersedih
Tapi kau tak peduli
Terhadap siapa yang kau bawa pergi..
Bagai awan mendung yang menggantung
Kau tebarkan murung yang menggunung
Laksana petir yang menyambar
Kau semburkan getir yang melahar
Ooooohhhhhhhhh....
Sungguh tak ada yang dapat berlari
Tak satupun sanggup memungkiri
Bahwa setiap yang bernafas; pasti akan M-A-T-I...
Aduhai.. Betapa luasnya kuasamu ini..
Kau pisahkan sang ayah dari anak dan istri..
Kau renggut sang terkasih dari yang mengasihi...
Kau putuskan lezatnya meniti hari...
Bagai daun kering yang berguguran
Kau pekatkan aura kematian
S'perti buah kelapa yang berjatuhan
Tua-muda, semua kau beri perpisahan
"Tapi jangan khawatir", itu katamu...
"Perpisahan ini bukanlah elegi
Namun, sebuah gerbang pembuka hati
Dalam perjalanan suci menuju Ilahi"
"Namun, bagi mereka yang lalai", lanjutmu...
"Akan menunggu adzab yang pasti
dimana hari-hari bukanlah mimpi yang tak bertepi
melainkan gelap malam yang t'rus merajam diri"
Dan akupun bertanya, wahai Izrail
dalam rupa apa kau kan datang memanggil?
dalam keadaan bagaimana nyawaku kau cungkil?
dan dengan sayap yang mana, rohku ini kau ambil?
Hingga nanti.., wahai makhluk yang ditakuti
Kau akan berdiri di hadapanku sendiri
Mencuri cahaya mata dari tubuh tak-abadi
Terbangkan jiwaku melintasi mentari...
Dan kini.., wahai algojo yang tak bermurah hati
Tidakkah kau lihat, karyamu selalu hantui kami
Di saat catatan pahala-dosa t'lah terhenti
Dan, Ketika kepak sayapmu hujani mata kami...
(Oh, adakah aku tergolong "beruntung" atau "merugi"?)
Subscribe to:
Posts (Atom)