Showing posts with label 99575564443. Show all posts
Showing posts with label 99575564443. Show all posts

Sunday, October 24, 2010

Doa Nudbah

Dengan Nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Segala Puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Muhammad dan Keluarganya
Ya Allah bagi-Mu segenap pujian
atas ketentuan terhadap para wali-Mu
Yang terpilih sebagai pengayon agama-Mu
Yang telah Engkau berikan karunia yang banyak dari sisi-Mu
Karunia yang tidak akan hilang maupun berkurang
tentunya setelah Engkau syaratkan pada
mereka untuk tidak tergoda oleh kehidupan dunia yang hina
Kegemerlapan dan kemewahan dunia pun menjadi syaratnya
Engkau Mengetahui bahwa mereka akan menepati janji tersebut, karena itulah Engkau
terima dan dekatkan mereka di sisi-Mu.
Kau puji dan agungkan mereka
Kau turunkan malaikat-malaikat-Mu untuk mengiringi mereka.
Kau muliakan mereka dengan wahyumu
Kau bekali mereka dengan ilmu-Mu.
Dan Kau jadikan mereka perantara-Mu dan penghubung Keridhaan-Mu
Dari mereka, ada yang Kau tempatkan di sorga hingga
Kau keluarkan dia darinya.
Ada yang Kau bawa dalam perahu-Mu dan dengan rahmat-Mu,
Kau curahkan selamatkan ia dan orang-orang beriman
yang bersamanya dari kehancuran.
Ada pula yang Kaujadikan kekasih-Mu. Yang memohon kepada-Mu lidah yang jujur di
akhirat maka Kau kabulkan
dan pilihkan untuknya seseorang dari keluarganya.
Ada pula yang Kau ajak bicara dari balik pahon
dan Kau jadikan saudaranya pembantu dan wazirnya.
Kadang mereka lahir tanpa ayah.
Kau lengkapi ia dengan cahaya dan petunjuk.
Serta Kau bekali ia dengan Rohul Qudus.
Engkau berikan untuk masing-masing dari mereka
sesuatu syariat dan Engkau anjurkan sesuatu ajaran
Dan Engkau pilih untuk mereka para washi satu guna menjaga agama-Mu dari satu masa ke masa yang lain, untuk menegakkan agama-Mu dan menjadi hujjah atas para hamba-Mu.
Agar kebenaran tidaklah sirna dari tempatnya
dan para pengikut kebatilan
dikalahkan oleh pengikut kebenaran.
Sehingga tak seorangpun mengatakan :
”Seandainya Engkau {Ya Allah}mengutus kepada kami
seorang rasul yang memberi peringatan
dan Engkau tegakkan panji pemberi petunjuk
maka kami pasti akan mengetahui ayat-ayat dan bukti-bukti kebesaran-Mu sebelum
menjadi hina dan sengsara {di hari kiamat}”.
Akhirnya Kau tutup misi kenabian
dengan kekasih pilihan-Mu Muhammad (saww).
Shalawat dan salam atasnya dan keluarganya.
Dialah pilihan untuk menjadi penghulu mahkluk-MU.
Dialah yang tersuci dari orang-orang yang Kau sucikan.
Dialah sebaik-baik pilihan-MU.
Dialah yang termulia dari para pembawa risalah-MU.
Engkau utamakan Dia diatas para nabi-MU.
Kau utus ia kepada jin dan manusia.
Kau taklukan untuknya timur dan barat.
Kau anugrahkan untuknya Buroq
dan Kau mi’rajkan ia ke langit-Mu.
Kau bekali ia dengan ilmu
akan hal-hal yang lalu dan yang akan datang
hingga penghabisan ciptaan-Mu.
Lalu Kau menangkan ia akan para musuhnya
dengan rasa takut dikhianati mereka.
Kau utus Jibril dan Mikail serta malaikat lainnya menyertainya.
Kau janjikan kemenangan agamanya atas seluruh agama
walaupun kaum musyrikin tidak menyenanginya.
Setelah Kau tempatkan ia bersama kebenaran dan “Ahli “nya.
Kau janjikan untuknya dan untuk mereka Rumahnya pertama
yang didirikan untuk manusia yang terletak di Mekkah,
rumah yang diberkati dan petunjuk bagi alam semesta.
Di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasan-Mu,
maqam Ibrahim.
Barang siapa yang masuk di dalamnya akan merasa aman.
Dan Kau berfiman :”Hanya saja Allah berkehendak untuk menghilangkan keraguan dari
kalian wahai Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”.
Kemudian Kau jadikan upah {risalah} Muhammad {SAW} di dalam kitab-kitab-Mu, cinta
kasih kepada mereka.
Maka Kau berfirman :”Katakanlah bahwa aku tidak menghendaki upah apapun selain
kecintaan kerabatku.
Dan Kau berfirman:”Upah apapun yang kau minta adalah kalian juga”.
Dan Kau berfirman :”Aku tidaklah mengharapkan balasan dari kalian kecuali bagi mereka
yang mencari jalan Tuhan”.
Mereka itulah jalan-Mu dan pengantar menuj ridha-Mu.
Maka tatkala saat-saat akhirnya {Nabi} tiba, ia tunjuk Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai
wali dan petunjuk jalan karena ia pemberi peringatan dan pada setiap kaum dan petunjuk hidayah.
Ia bersabdah di hadapan Khalayak:”Siapa yang bersaksi bahwa saya adalah maulana dan pepimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya pula. Ya Allah pimpinlah orang yang
menjadikannya pemimpin dan musuhilah yang memusuhinya. Tolonglah orang yang
menolongnya dan hinakanlah yang menghinakannya.
Dia bersabda:
”Barang siapa yang bersaksi bahwa aku nabinya, maka Ali adalah pemimpinnya
Dia bersabda: “Saya dan Ali berasal dari satu pohon, sedangkan manusia lainnya dari
pohon yang bermacam-macam.
Dia samakan kedudukan Ali sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa seraya mengatakan
kepadanya :”Kedudukan di sisiku bak kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tiada nabi setelahku”.
Dia kawinkan Ali dengan putrinya, penghulu wanita ala semesta Dia halalkan untuknya
dari mesjid apa yang boleh dan halal baginya.
Dan dia tutup pintu-pintu penghubung mesjid kecuali pintunya.
Lalu ia bekali Ali dengan ilmu dan hikmah seraya mengatakan :
”Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya. Barang siapa yang menghendaki kota
dan hikmah hendaknya ia mendatangi dari pintunya”.
Kemudian ia bersabda:”Engkau adalah saudaraku, washiku dan pewarisku. Dagingmu adalah dagingku darahmu adalah darahku. Kedamaian adalah kedamaianku dan musuhmu adalah musuhku. Iman telah bercampur dengan darah dan dagingmu sebagaimana telah bercampur dengan darah dagingmu.
Engkau khalifahku di telaga {Haud}kelak. Engkau yang melunasi hutang dan memenuhi
janjiku.
Para pengikutmu akan berada diatas mimbar yang terbuat dari cahaya sedang wajah
mereka berseri-seri di sekelilingku di dalam sorga. Merekalah para tetanggaku”.
Seandainya tak ada Engkau, orang mu’min tak dapat diketahui sepeninggalanku kelak.
Dialah petunjuk jalan dari kesesatan sepeninggalnya.Cahaya dari kebutaan.
Tali Allah yang kokoh,jalan-Nya yang lurus.
Kerabat terdekat dan pemeluk islam pertama, tak ada seorangpun yang menyamai
kepiawaianya, mengikuti jejak langkah Rasul saww.
Berperang untuk meluruskan ta’wil yang salah tanpah peduli cercaan
siapapun.Menggetarkan hati para pemuka akrab.
Membinasakan pahlawan-pahlawan mereka. Mengadu ketangkasan dengan mereka.Maka bersemilah kembang kedengkian Badr,Khaibar,Hunain dan lainnya.
Tertanamlah rasa kebencian terhadapnya.Tumbuhlah rasa ingin mengatasinya.
Lalu ia perangi golongan poengkhianat baiat,menyimpang kebenaran dan yang keluar dari agama.
Dan tatkala ajal menjemputnya, dan ia dibunuh oleh orang celaka yang mengikutinya
pendahulunya.
Pemerintah rasulullah tentang para hadi {pemberi petunjuk} tidak
terlaksanakan.Sedangkan umat tetap membencinya dan bersepakat untuk memutuskan tali kerabatnya dengan mengasingkan para putranya. Kecuali sedikit orang yang setia
menjaga dan mempertahankan hak mereka.
Sehingga ada yang terbunuh, ada yang tertawan dan ada pula yang diasingkan.Berlakulah ketentuan {Qadha} atas mereka dengan harapan pahala dan balasan yang baik dari Allah.Karena bumi adalah milik Allah. Dia wariskan kepada hamba yang di kehendaki-NYA, dan akhir dari semuanya itu adalah milik orang-orang yang bertakwa. Maha Suci Tuhan kami karena janji-NYA, akan terwujud. Sekali-kali Dia tidak pernah mengingkari janji-NYA da Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Maka untuk orang-orang suci dari keluarga Muhammad dan Ali (salawat Allah atas
keduanya), menangislah para penangis.
Untuk mereka merataplah para peratap.
Untuk mereka teteskanlah air mata. Untuk mereka menjeritlah si penjerit. Untuk
mereka berteriaklah si peneriak. Untuk mereka histerislah orang yang histeris.
Di manakah AL-Hasan?…Dimanakah Al- Husain?… Dimanakah putra-putra Al-Husain?… Yang soleh setelah yang soleh. Yang jujur setelah yang jujur.
Manakah jalan kebenaran setelah jalan kebenaran? Dimanakah pilihan setelah pilihan?
Dimanakah matahari-matahari yang terbit? Dimanakah bulan-bulan yang yang bersinar?
Dimanakah bintang-bintang yang terang?.
Dimanakah lambang –lambang agama dan pondasi-pondasi ilmu? Dimanakah baqiyyatullah yang tak pernah sunyi dari keluarga petunjuk kebenaran.
Dimanakah orang yang dipersiapkan untuk memutuskan tali kedzaliman?
Dimanakah yang dinanti-nanti untuk meluruskan penyimpangan?
Dimanakah harapan penghapus kedzaliman dan permusuhan?
Dimanakah sang pembaharu fardhu dan sunnah?
Dimanakah yang terpilih sebagai pemulih agama dan syari’at?
Dimanakah harapan penghidup Al-Quran dan hukum-hukumnya?
Dimanakah pelita kehidupan agama dan pemeluknya?
Dimanakah pencabut akar kekuatan di pelampau batas?
Dimanakah penghancur bangunan syirik dan kemunafikan?
Dimanakah pembinasa orang-orang fasik,ahli maksiat dan kedzaliman?
Dimanakah pembersih jejak-jejak penyimpangan dan kedurjanaan?
Dimanakah penebas ranting-ranting kesesatan dan perselisihan?
Dimanakah pemotong tali-tali dusta dan kebohongan?
Dimanakah pembinasa si congkak dan durjana?
Dimanakah pembasmi kaum pembangkang, kesesatan dan kekafiran?
Dimanakah pemulia para auliya’ dan penghina para musuh?
Dimanakah pemersatu kalimat atas taqwa?
Dimanakah pintu ALLAH yang harus didatangi?
Dimanakah wahjullahI tempat para auliya’ menghadap?
Dimanakah tali yang terjulur dari langit hingga bumi?
Dimanakah pemilik hari kemenangan dan pengibar bendera hidayah?
Dimanakah pemersatu kebajikan dan keridhoan?
Dimanakah penuntut darah para nabi dan putra-putra mereka?
Dimanakah penuntut darah orang yang terbunuh di karbala?
Dimanakah si pemenang dalam memerangi musuh-musuh dan para pendustanya?
Dimanakah orang yang kesulitan yang tatkala berdoa di kabulkan?
Dimanakah pempimpin para makhluk yang bajik dan bertakwa?
Dimankah putra nabi Al-Musthofa, putra Ali Murtadho, putra Khadijah Al-Garra’, putra
Fatimah Al-Kubra.
Demi ayah, ibu, dan jiwaku, hanya untukmulah perlindungan dan pembelaan ( ku ).
Wahai putra para pemimpin-pemimpin ( yang dekat dengan ALLAH ). Wahai putra
orang-orang mulia.
Wahai putra para petunjuk kebenaran . Wahai putra para pilihan yang terdidik.
Wahai putra orang-orang terhormat yang mulia. Wahai putra orang-orang bersih yang
suci.
Wahai putra para dermawan yang suci.
Wahai putra para pembesar yang mulia.
Wahai putra purnama-purnama bersinar.
Whai putra pelita-pelita terang.
Wahai putra lampu-lampu pijar angkasa.
Wahai putra bintang-bintang gemilang.
Wahai putra jalan-jalan terang.
Wahai putra panji-panji berkibar.
Wahai putra ilmu-ilmu sempurna.
Wahai putra sunnah-sunnah masyhur.
Wahai putra ajaran-ajaran.
Wahai putra mu’zizat-mu’zizat.
Wahai putra bukti-bukti nyata.
Wahai putra jalan yang lurus.
Wahai putra berita yang besar.
Wahai putra yang di sebut dalam Al-Quran di sisi ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha
Bijaksana.
Wahai putra ayat-ayat dan bayyinat.
Wahai putra dalil-dalil yang jelas.
Wahai putra bukti-bukti yang nyata dan terang.
Wahai putra hujjah-hujjah yang jitu.
Wahai putra ni;’mat-ni’mat yang tercurah.
Wahai putra Thaha dan Muhkamat.
Wahai putra yasin dan dzariyat.
Wahai putra Thur dan ‘Adiyat.
Wahai putra dia yang di dekatkan diantara dua busur atau lebih dekat dari itu, dekat
dengan ALLAH dzat Yang Maha Tinggi.
Oh, dimanakah gerangan tempat kau berada?
Tanah dan bumi manakah tempat kau berpijak?
Radhawa-kah ia atau lainnya atau mungkin pula bukit Thuwa? Sungguh berat rasanya
bagiku melihat manusia-manusia sedang engkau tak terlihat olehku.
Dan tak kudengar bisikan maupun rintihanmu.
Sungguh berat penderitaanku atas segala musibah yang menimpamu.
Sedang rintihan dan ratapanku tak berguna bagimu.
Demi jiwaku, engkaulah si Ghaib yang tak pernah lepas dari kiamat.
Demi jiwaku, engkaulah harapan si pengharap baik mu’min maupun mu’minah yang selalu
mengingat tergetar olehmu.
Demi jiwaku, engkaulah puncak kemuliaan yang tak terlampaui.
Demi jiwaku, engkaulah puncak kehormatan yang tak ternilai.
Demi jiwaku, engkaulah sumber kenikmatan tiada banding.
Demi jiwaku, engkaulah padanan kesempurnaan yang tak tersamai.
Sampai kapankah kegelisahanku menantimu wahai penghuluku?
Dengan untaian kata kata dan ungkapan apakah kulukiskan dirimu?
Berat kiranya bagiku mendapat jawaban pembicaraanmu.
Berat kiranya bagiku menangisimu sedang orang-orang menghinakanmu.
Berat rasanya bagiku apa yang menimpamu dan bukannya menimpa mereka.
Adakah yang menolongku, hingga kuperpanjang keluhan dan tangisan ini?
Adakah orang yang merintih sehingga kubantu rintihannya jika ia telah selesai.
Adakah mata yang kering hingga kubantu ia dengan air mataku?
Adakah jalan untuk menemuimu wahai putra Ahmad?
Akankah suatu hari kita kan bertemu?
Kapankah kiranya kami datang ke telagamu
untuk meminum hingga puas?
Kapankah kiranya kami dapat menikmati segarnya airmu…sungguh telah lama rasanya dahaga ini?
Kapankah kita berkumpul sepanjang hari sehingga tentram hati kami ini?
Kapankah saling berjumpa?
Sungguh panji kemenanganmu telah nampak. Akankah kau melihat kami mengelilingimu di saat kau pimpin manusia.
Dan telah kau bentangkan keadilan di muka bumi.
Dan kau timpakan atas musuh-musuhmu azab dan kehinaan.
Engkau binasakan orang yang melampaui batas dan penentang kebenaran.
Engkau musnahkan orang-orang congkak.
Dan kau cabut akar-akar dzolimin.
Diwaktu itulah kami berucap “Segala Puji Bagi ALLAH Tuhan semesta alam”
Ya ALLAH, engkaulah pengurai segala kesulitan dan petaka. Kepada-MU lah ku mohon
pertolongan karena hanya dari-Mu lah pertolongan itu. Dan Engkaulah Tuhan dunia
akhirat. Maka tolonglah hamba-Mu ini para wahai penolong para peminta pertolongan.
Pertemukanlah dia dengan pemimpinnya wahai yang Maha Kuat. Hilangkanlah dari rasa
keputus asaan dan sejukanlah rasa dahaganya wahai penguasa’arsy dan yang menjadi
tempat kembali dan penghabisan.
Ya Allah kami adalah hamba-hamba yang merindukan wali-Mu yang mengingatkan kami
kepada-Mu dan kepada nabi-Mu. Engkau jadikan dia benteng dan tempat kami bernaung. Dan Engkau tegakan ia sebagai sendi imam bagi orang-orang mu’min diantara kami. Maka sampaikanlah salam hormat kami kepadanya dan tambahkanlah dengan itu kehormatan bagi kami wahai Tuhan. Jadikanlah keberadaannya diantara kami keberadaan yang tetap. Sempurnakanlah ni’mat-Mu dengan menjadikannya pemimpin kami. Hingga kau anugrahkan Pada kami sorga-Mu dan kebersamaan para syuhada’ yang ikhlas pada-Mu.
Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad kakeknya dan utusan-Mu sang pemimpin agung.
Kepada ayahandanya sang pemimipin penerus. Kepada neneknya Shiddiqah yang agung, Fatimah putri Muhammad. Kepada para pilihan-Mu dari pendahulu-pendahulunya yang baik. Baginya shalawat-Muyang lebih utama,sempurna,langgeng dan lebih banyak dari shalawat yang Kau anugrahkan kepada siapapun juga pilihan-Mu. Dan curahkanlah kepadanya shalawatmu yang tak terbilang, yang tak terbatas dan tak berakhir.
Ya Allah dengannya tegakkan kebenaran, hancurkanlah kebatilan, menangkanlah wali-wali Mu dan hinakanlah musuh-musuh-Mu. Sambungkanlah tali penghubung antara kami dengannya agar kami dapat berkumpul dengan para pendahulunya. Jadikanlah kami orang-orang yang berlari kepadanya dan berada di bawah naungannya. Bantulah kami dalam menunaikan hak-haknya, bersungguh-sungguh dalam mentaatinya dan menjauhi larangannya. Serta anugrahkan kepada kami keridhaannya. Limpahkanlah kepada kami kelembutan, kasih sayang dan do’a dan kebaikannya sehingga keluasan rahmat-Mu dan kesuksesan di sisi-Mu dapat kuperoleh dengannya. Jadikanlah dengannya sebab diterimanya solat kami, diampuninya dosa-dosa kami, dikabulkannya do’a kami. Berlimpahnya rizki kami, terobatinya rasa kegelisahan kami dan terpenuhinya hajat dan kebutuhan kami. Sambutlah kami dengan wajah-Mu yang mulia. Terimalah taqarrub kami kepada-Mu. Pandanglah kami dengan pandangan penuh rahmat yang menyempurnakan kemuliaan kami di sisi-Mu. Kemudian jangan Kau memalingkannya dari kami demi kemurahan-Mu. Dan berilah kami minuman dari telaga haudh milik kakeknya Saww dengan cawan dan tenaganya, minuman yang menyegarkan dan menyenangkan, yang tak akan menimbulkan rasa dahaga lagi selama-lamanya,
Wahai Yang Maha Pengasih dari para Pengasih.

Kesadaran Cinta

Mulutku tertutup agar jemariku dapat berbicara, kakiku terlipat agar kepalaku dapat berlari, Jasadku teronggok agar Ruh ku dapat berkelana... Ternyata manusia telah sakti, dengan akal ia mampu berdiri, sesaat aku merasa akan abadi, padahal suatu saat akan mati, lalu bagaimana aku nanti? saat meninggalkan dunia ini.. Apakah harta, anak dan istri.. sudi menemani.. saat tubuh yang dikafani.. telah terkubur dalam bumi?

Inilah yang seharusnya membuat kita menyadari kesementaraan hidup kita di dunia, dengan umurnya yang sangat pendek, apakah manusia sanggup mencari cintanya yang abadi disaat segala sesuatu ciptaan-Nya memiliki akhir? Dalam sisa umur kita yang merupakan rahasia ini, apakah kita akan sanggup menemukan kebenaran dan meraih cinta-Nya? atau kita akan terjebak dalam belenggu hawa nafsu hingga akhir hayat. Seperti ungkapan seorang penyair, “Binatang terbebas karena kebodohannya, malaikat terbebas karena pengetahuannya, diantaranya, manusia yang tetap berjuang.” Kita dihadapkan pada dua pilihan. Apakah kita akan menjadi lebih buruk dari hewan dengan hawa nafsu kita atau kita akan menjadi lebih baik dari malaikat karena cinta. Seperti sosok mulia Imam Ali bin Abi Thalib as yang sebenarnya telah mengetahui siapa yang akan membunuhnya, namun dia tak berniat untuk menghentikannya, bahkan hanya berkata, “Hai Ibn Muljam, janganlah kau tidur dengan tengkurap, karena itu tidurnya pengkhianat, tidurlah dengan posisi terlentang seperti para Nabi, atau miring ke samping seperti para wali.” Atau kita bisa melihat perjuangan Imam Hussain bin Ali as yang sudah mengetahui akan ajalnya di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah namun tak sedikitpun gentar, padahal satu demi satu keluarganya dibantai dengan kejamnya. Bagai penggalan kisah Sumayah dan keluarganya yang disiksa dan dibunuh dengan kejam dihadapan Abu Jahal dan kawan – kawannya. Ia dipaksa meninggalkan keimanannya, tetapi tak sedikitpun ia berubah. Dengan keteguhan ia terus – menerus mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad ialah rasul-Nya. Sementara ia sedang menderita karena siksa, utusan Rasulullah Saw datang menemuinya memberitahu bahwa ia dapat berpura – pura menyatakan kafir, tapi tetap beriman didalam hati sebagaimana firman Allah, “Kecuali orang yang terpaksa, tetapi hati tetap beriman.” (QS. 16: 106) Namun dengan tegarnya Sumayah berkata. “Sampaikan salam saya kepada Rasulullah. Katakan bahwa Sumayah, yang hatinya telah disucikan Allah dengan iman, tidak akan mengotori lidahnya dengan kata – kata kufur.” Mendengar teriakannya, Abu Jahal geram dan lantas menusuk rahim Sumayah dengan pedangnya dan Sumayah pun akhirnya gugur karena kehabisan darah. Contoh cinta lainnya seperti Abu Dzar yang selalu berkata jujur. Ia tak pernah menyembunyikan keyakinan yang dianggapnya benar, seperti sabda Rasulullah Saw, “Katakanlah yang benar walaupun itu pahit.”. Ia senantiasa menjadi kritikus yang tangguh pada pemerintahan Islam pada waktu itu. Ia berdiri dan berbicara lantang di hadapan Usman bin Affan dan memperbaiki perilakunya. Dan Ia pun melakukan hal yang sama pada pemerintahan Muawiyah. Akhirnya ia dibuang ke Ribzah dan meninggal sendirian seperti yang telah dinubuatkan Rasulullah Saw untuknya, “Ia datang sendiri, mati sendiri, dan akan dibangkitkan pada hari kiamat sendirian pula.” Bahkan Rasulullah Saw pernah berkata tentang Abu Dzar, “Dibawah langit ini, tidak ada lagi lidah yang lebih jujur kecuali lidah Abu Dzar.” Rasulullah Saw berkata, “Jihad yang paling baik ialah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” Seperti dalam firman Allah. “Wahai orang – orang yang beriman. Takutlah kepada Allah, dan ucapkanlah kata – kata yang benar, niscaya Allah memperbaiki pekerjaanmu dan memaafkan dosa – dosamu. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia akan memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. 33 : 70 – 71). Inilah kekuatan cinta yang paling tinggi dan luhur. Justru kekuatan cinta yang terbesar didapatkan dengan kematian, Banyak diantara hamba – hamba Tuhan yang beribadah dengan perhitungan, dia menghitung semua dosa yang ia perbuat dengan membayarnya dengan perbuatan baik, lalu dia mengulangi lagi dosanya, terus – menerus. Dalam sebuah kisah, Rabi'ah al-Adawiyah berlari ke tengah pasar dengan membawa se ember air di tangan kanan dan sebilah obor di tangan kiri. Orang keheranan dan bertanya, "Hai Rabi'ah, apa yang kau lakukan?" Sufi perempuan itu menjawab. "Dengan air ini aku ingin memadamkan neraka. Dengan api ini, aku ingin membakar surga, supaya setelah ini orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut akan neraka dan berharap akan surga. Aku ingin setelah ini hamba - hamba Tuhan akan menyembah-Nya hanya karena cinta." Imam Ja'far as Shadiq berkata, "Membangkang kepada Allah sambil mengaku bahwa engkau mencintai-Nya? Demi hidupku, ini ajaib! Apabila cintamu sejati, pasti engkau akan mematuhi-Nya, karena pecinta patuh pada yang dicintainya." Ketaatan dan peribadatan seseorang kepada Allah Swt selaras dengan cintanya kepada Allah Swt. Pada dasarnya, cintalah yang membawa pada ketaatan; si pecinta tidak mampu menolak keinginan yang dicintainya. Dengan cinta, seseorang akan bersedia dan berusaha melakukan yang terbaik demi memenuhi keinginan dan memberikan kebahagiaan bagi yang dicintainya.

Bentuk Cinta.


Cintaku, jangan jadikan perpisahan dengan-Mu sebagai nikmat bagiku. Sulitkanlah setiap langkahku, rintangilah setiap jalanku. Agar aku semakin rindu dan mencintai perjumpaan dengan-Mu. Sungguh dalam setiap perjalanan, seseorang hanya ingin cepat sampai di tujuan dan tidak ingin berlama- lama di persinggahan. Lalu mengapa aku tetap tertahan di persinggahan? Cukupkanlah bekalku, bekalku hanya kecintaanku pada-Mu.


Cinta dalam level tertingginya ialah cinta kepada Tuhan, seseorang yang telah mencapai tingkatan ini akan meninggalkan ketergantungannya dan keterikatan hatinya kepada dunia. Tetapi bukan lantas menjadikan mereka mengharamkan sesuatu yang halal bagi mereka. Mereka hanya berusaha memerdekakan hati mereka dari keterikatan terhadap dunia. Mereka disebut sebagai zahid, atau orang – orang yang zuhud. Zuhud berarti menahan diri, bukan lantas menjadikan kita tidak menelantarkan keluarga demi ibadah yang terus menerus kepada Tuhan, namun seperti kata Imam Ali as, “Bukanlah seorang zahid itu adalah orang yang tidak memiliki apapun, tapi seorang zahid itu ialah yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun.” Dharah bin Dhammah pernah bercerita di hadapan Muawiyah tentang Ali bin Abi Thalib. “Aku bersaksi telah melihatnya suatu ketika, di saat malam menjulurkan tirainya dan bintang – bintang mulai redup terbenam: ia berdiri di mihrabnya bagai tersengat ular berbisa, gelisah laksana seorang yang sangat parah sakitnya, menangis tersedu – sedu memegangi janggutnya seraya berbisik, ‘Wahai dunia, bukan aku orangnya yang bisa kauperdayakan. Adakah untukku engkau berhias? Atau kepadaku engkau mengharap. Tidak? Telah kuceraikan engkau dengan tiga talak hingga tak mungkin lagi engkau kembali. Usiamu pendek. Nilaimu rendah, tapi bahayamu besar. Oh, betapa sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan, dan sunyinya perantauan.” Seseorang yang telah mencapai derajat zuhud seperti ini sulit untuk merasakan kekecewaan dalam hidup. Karena ia menyadari cinta yang telah diberikan Allah Swt kepadanya. Bahwa segala nikmat dan cobaan yang datang kepadanya tiada lain ialah bentuk kasih sayang Tuhan kepadanya.
Manusia yang telah membebaskan diri dari keterikatan hatinya terhadap dunia akan mengalami sebuah pengalaman spiritual dan ruhani yang tinggi. Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Barangsiapa yang zuhud dalam dunia, tidak sedih karena kehinaannya (dunia) dan tidak ambisius untuk memperoleh kemuliaannya, Allah akan memberinya petunjuk tanpa melewati petunjuk makhluk-Nya. Dia akan mengajarinya ilmu tanpa ia mempelajarinya. Allah mengokohkan hikmah dalam hatinya dan mengeluarkan hikmah itu melalui lidahnya.” (Al-Bihar 78:63) Para sufi menyebutnya ilmu laduni. Ilmu yang diberikan Allah langsung tanpa perantara makhluk-Nya. Kita dapat memperoleh dalam epistemologi Islam ilmu yang didapat lewat pengamatan empiris seperti sains, atau ilmu yang didapat melewati permenungan rasional seperti filsafat, juga melalui guru – guru Anda. Namun semua ilmu tersebut pada hakikatnya tetap Anda peroleh dari Allah melalui makhluk-Nya. Anda dapat memperoleh ilmu langsung dari Allah Swt. Dia mengilhamkannya langsung ke dalam hati Anda seperti seorang Ibu yang merasakan anaknya dalam situasi yang berbahaya tanpa seorang pun memberitahunya. Ilmu semacam itulah yang bisa menjelaskan mengapa orang – orang suci dapat tahu sebelum diberi tahu. Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Bila kalian zuhud, kalian akan dibebaskan dari penderitaan dunia, dan memperoleh kebahagiaan di kampung yang kekal (akhirat).” (Ghurar al-Hikam).

Tergila Karena Cinta

Apabila cinta telah sedemikian besar dan dalam merasuk dalam jiwa sang pecinta. Terkadang sang pecinta akan melakukan hal – hal diluar pemikiran orang pada umumnya. Cinta sudah sedemikian tinggi dalam levelnya sehingga hanya dia yang mampu memahaminya dan orang lain hanya mengerti apabila telah dijelaskan. Hal inilah yang menyebabkan seseorang dianggap Majnun (gila) oleh sebagian orang lainnya karena ia telah melakukan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu diluar pemahaman orang kebanyakan. Suatu saat Musa berjalan melewati sebuah padang dan mendengar seorang gembala sedang menyeru Tuhan: “Duhai Tuhan, dimanakah Engkau? Biar kurapikan tempat tidur-Mu. Biar kutuangkan air susu-Mu. Biar kusisiri rambut-Mu.” Serentak Musa marah. Ia menegur gembala itu. “Tak tahukah kamu dengan siapa kamu bicara? Dialah Tuhan alam semesta.” Mendengar teguran Musa gembala itupun merintih dan berlari hingga menghilang di tengah bebukitan. Berangkatlah Musa ke bukit Sina dan berbicara dengan Tuhannya. Ketika Musa hendak Pulang, Tuhan menegur Musa, “Lupakah kau dengan si gembala? Sungguh aku tidak melihat kata – kata yang diucapkan. Yang aku lihat adalah hati yang bersih yang mengeluarkannya. Ibadah yang indah jika tanpa makna, hanyalah khayalan hampa.” Tuhan menegur Musa. Kata – kata yang disampaikan begitu sederhana, ternyata dipandang agung di hadapan Sang Pencipta. Usai dari bukit Sina, Musa mencari s gembala. Ia temukan gembala itu tengah tersungkur di sebuah gubuk. Ketika disampaikan padanya apa yang disampaikan Tuhan semesta. Gembala itu berkata, “Aku sudah melewati batasan kata – kata. Kini kurasakan indahnya cinta.”
“Pada suatu hari, aku keluar bersama saudaraku Dzun – Nun al – Mishri. Kata Abdul Bari, seorang sufi. Tiba – tiba kami berjumpa dengan serombongan anak – anak yang sedang melempari seseorang dengan batu. Saudaraku berkata pada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan darinya?’ Mereka menjawab: ‘Orang ini gila, dia mengaku melihat Tuhan!’ Lalu, kami mendekati dia, yang ternyata seorang pemuda yang sangat tampan. Tampak pada dirinya wibawa ‘arifin. Kami ucapkanlah salam padanya. Kami berkata: ‘Mereka menuduh kamu mengaku pernah melihat Allah.’ Ia berkata, ‘Enyahlah dari sini wahai pemalas! Sekiranya aku kehilangan Dia sekejap mata saja, akan kusesali seluruh hidupku.’ Kemudian ia melantunkan syair:
Sang kekasih mengejar ridha Kekasihnya
Dambaan kekasih hanyalah perjumpaan dengan Kekasihnya
Dipandangnya Kekasih dengan kedua mata hatinya
Hati mengenal Tuhannya dan melihatnya
Bahagia sang kekasih dapat mendekati Kekasihnya
Meninggalkan para budak,
maka tidak dia lihat siapapun selain Dia.
Aku berkata kepadanya : ‘Apakah kamu gila?’ Ia berkata: ‘Di hadapan penghuni bumi, memang benar aku gila: di hadapan penduduk langit, tidak’ Aku bertanya lagi: ‘Bagaimana keadaanmu dengan Junjunganmu?’ Ia berkata: ‘Sejak aku mengenalnya, aku tidak pernah meninggalkan-Nya. Aku bertanya: ‘Sejak kapan kamu mengenalnya?‘ Ia menjawab: ‘Sejak Dia menjadikan aku dalam kelompok orang gila.’” Menyimak kisah diatas, apabila kita renungkan dengan seksama. Ternyata orang ini bukanlah orang gila. Pemuda ini hanya merasakan cinta dalam hatinya. Cinta yang begitu besar dan luas hingga ia terhanyut didalamnya. Apakah kita dapat mengatakan bahwa dia gila setelah mendengar penjelasannya? Tentu tidak, apakah seseorang yang mencintai Tuhannya patut dianggap gila? Dia sedang merasakan keindahan yang sangat dalam jiwanya. Kenikmatan yang tidak dapat dirasakan setiap orang. Kepuasan yang hanya dialami oleh seseorang yang memiliki cinta. Orang yang seperti ini bukanlah orang gila. Rasulullah Saw pernah menjelaskan siapa orang gila yang sebenarnya. Sewaktu beliau melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya pada mereka, “Karena apakah kalian berkumpul disini?” Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, ini ada orang gila, sedang mengamuk. Karena itulah kami berkumpul disini.” Beliau bersabda.”Orang ini bukan gila. Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang benar – benar gila?” Para sahabat menjawab, “Tidak ya Rasulullah.” Beliau menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepadanya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah saja.” Kata ‘Majnun atau orang gila berasal dari akar kata ‘jannat, yang berarti menutupi. Meskipun dia memiliki akal, namun akal tersebut tak mampu menerangi perilakunya. Akalnya tersebut telah ditutupi dan dikuasai oleh hawa nafsunya. Dalam pengertian inilah Rasulullah Saw menyebut seseorang yang takabur itu gila.Adapun kepada orang yang sedang terganggu pikirannya Rasulullah menyebutnya sebagai orang yang sedang menerima musibah, orang sakit. Ia sakit karena ketidak sanggupannya menanggung derita. Dan perilakunya yang aneh hanyalah pelariannya dari kenyataan yang menyakitkan dalam hidupnya. Orang yang sedang menerima musibah seperti ini justru patut kita bantu. Ia bukanlah orang gila, kita seharusnya meringankan dirinya dari penderitaan dan menuntunnya menuju jalan keluar dari permasalahan yang ia alami. Ia bukanlah seseorang yang telah tertutup hatinya. Ia hanya seseorang yang telah terluka dan hancur hatinya. Bukankah Tuhan berkata, “Carilah aku di tengah – tengah orang yang hancur hatinya?” Bukan orang yang seperti ini yang patut kita jauhi, melainkan orang yang benar – benar gila. Yang merasa dirinya besar, dan merendahkan orang lain. Ia menutup kenyataan bahwa ia tidak berbeda dari orang lain. Sifatnya yang merasa dirinya lebih dari yang lain menjadi sebuah tembok besar yang menghalangi kepribadian mulianya.
Rasulullah Saw berkata kepada Abu Dzarr, “Wahai Abu Dzarr, barangsiapa mati dan dalam hatinya ada sebesar debu dari takabur, ia tidak akan mecium bau surga, kecuali bila ia bertobat sebelum maut menjemputnya. “ Abu Dzarr berkata, “Ya Rasulullah, aku mudah terpesona dengan keindahan. Aku ingin gantungan cambukku indah dan pasangan sandalku juga indah. Yang demikian itu membuatku takut.” Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana perasaan hatimu? “ Abu Dzarr menjawab, “Aku dapatkan hatiku mengenal kebenaran dan tenteram di dalamnya. “Rasulullah Saw berkata, “Yang demikian itu tidak termasuk takabur. Takabur itu meninggalkan kebenaran dan kamu mengambil selain kebenaran. Kamu melihat kepada orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu dan darahnya tidak sama dengan darahmu.” Banyak manusia yang terjebak dalam kesombongan yang ia sendiri tidak menyadarinya. Apabila anda tidak mau menerima sebuah kebenaran dikarenakan oleh kebenaran tersebut disampaikan dari lidah seorang miskin, atau seseorang yang anda rasa lebih rendah dari anda. Anda telah takabur. Atau anda tidak ingin mendengar penjelasan seseorang karena pemahamannya berbeda dari anda, lalu anda menganggap orang tersebut salah dan andalah yang paling benar. Atau karena anda merasa lebih berilmu dengan gelar anda atau jabatan anda lalu anda tidak ingin disamakan dengan orang yang tidak memiliki apapun. Anda telah takabur. Apabila anda seorang ahli agama. Anda khususkan surga hanya bagi golongan anda, dan selain anda dan kelompok anda semuanya berada dalam neraka. Atau apabila anda seorang ahli ibadah, lalu anda merasa bangga dengan amalan – amalan anda sehingga meninggalkan keutamaan akhlak kepada orang disekitar anda. Anda telah takabur. Atau apabila anda telah memiliki kekuasaan atau harta yang berlebih, lalu anda dengan berbagai alasan menolak berbaur dan berbuat dzalim kepada orang lain. Anda telah takabur. Dan anda telah menjadi orang gila yang sebenarnya.